RANGKUMAN FILSAFAT ILMU
SEJARAH PERKEMBANGAN FILSAFAT ILMU
Perkembagan Filsafat ilmu
Filsafat telah merubah pola pikir bangsa yunani dan umat manusia dari pandangan mitosentris menjadi logosentris. Pada awalnya bangsa yunani menganggap bahwa semua kejadian yang terjadi di alam ini dipengaruhi oleh para dewa, oleh karenanya bagi bangsa yunani dewa harus dihormati, ditakuti dan disembah namun ketika filsafat mulai muncul bangsa yunani mulai meninggalkan pola pikiran tersebut dan beralih pada pola pikir yang lebih rasional (tergantung pada akal).
Dari Pola pikir yang rasional inilah bermunculan para filusuf dengan penekan yang bereda-beda misalnya Thales yang mengemukakan bahwa asal mula alam semesta alam ini adalah air, ia beranggapan bahwa air adalah sesuatu yang sangat diperlukan dalam kehidupan. Namun Thales menganggap, udara, api, kayu batu dan sebagainya hanyalah sebagai komponen atau fenomena yang bahan dasarnya terbatas .
Selain Thales masih banyak lagi filusuf yang membuka pikiran kita terhadap alam semesta ini dengan pikiran yang rasionalnya sebut saja Phytagoras dengan pemikirannya tentang kuantitas dan bilangan yang mengemukakan bahwa pembagian bilangan genap dan ganjil serta hubungan antara kuadrat natural numbers dengan jumlah ganjil, pembentukan benda berdasarkan segitiga, segi empat, dan segi lima dengan sisinya sama , bumi ini bundar tidak datar, dan bumi mengelilingi matahari. Beda lagi dengan Demokritos yang mengemukakan tentang atom dan hampa, selanjutnya ada Socrates dengan logikanya. Setelah Sokrates muncul anak muridnya yaitu Plato dengan konsep mengenai idea yang menganggap bahwa realitas yang ada di dunia ini terbagi mnjadi dua yaitu dunia yang hanya dibentuk bagi rasio dan dunia yang dibentuk bagi panca indara, dan tokoh yang tak kalah penting yaitu adalah Aristoteles dengan konsep silogismenya yang terdiri dari premis mayor premis minor dan konklusi.
Pada Zaman Hellenisme
Hellenisme berasal dari bahasa yunani hellenizzein, yang berarti berbicara atau kekekalan. Filsafat hellenisme sendiri dicirikan sebagai berikut:
· Sudah adanya Pemisahan antara filsafat dan sains sehingga sudah ada sepesialisasi dalam prosses belajar
· Sifat spekulasi mulai dijauhi dan lebih mengarah kepada aplikasi dan perhatian besarnya lebih kepada mekanika
· Atena kehilangan monopolo karena banyak ditemukannya kota-kota seperti Antakaya, Rhades dan Alexsandria
· Filsafat dipopulerkan sehingga banyak yang ingin belajr filsafat
Pada Zaman Renaissance
Renaissance merupakan era sejarah dimana ilmu pengetahuan mengalami kemajuan pesat dimana pada jaman ini terjadi gerakan reformasi menentang supermasi gereja khatolik roma, pada zaman ini banyak sekali penemuan-penemuan baru seperti Columbus yang mnemukan benua biru, adanya penemuan oleh seorang ahli perbintangan seperti Copernius, Galileo Galilei yang mendobrak dominasi gereja dan hasil penemuannya itu dijadikan sebagai dasar munculnya astronomi modern. Pada jaman renaissance juga orang-orang barat merubah cara berfikir mereka dan berbalik melawan otoritas gereja yang selama ini telah membelenggu kebebasan dalam menemukan kebenaran ilmu.
Pada Zaman Pertengahan Islam
Perkembangan ilmu pada zaman pertengahan islam selain dipengaruhi para filosof dari barat juga dipengaruhi oleh para filosof islam seperti Al- Khawarizmi yang menyusun buku aljabar, Umar Hayam, yang dikenal sebagai penyair dan ahli perbintangan dan matematika, Ibnu Rusydi dan Ibnu Sina sebagai ahli kedokteran . sebelum itupun sebenarnya perkembangan ilmu sudah ada pada masa rosulullah dimana nabi menerima wahyu yang pertama yaitu iqra yang artinya suruh membaca, selain itu pada masa sahabat perkembangan ilmu sangat mendapatkan apresiasi yang sangat bagus sehingga pada jaman keemasan islam ilmu sangat maju pesat terutama pada masa dinasti umayah dan dinasti abasiyah, dimana dalam sejarah islam kita mengenal tokoh seperti al-Mansur (jasa menterjemahkan tulisan-tulisan filusuf yunani kedalam bhsa arab), al-Ma’mun (membangun baitul al-hikmah )dan Harun ar-Sayid ketiga tokoh ini membrikan sumbangsi yang sangat besar dalam upaya memajukan ilmu pengetahuan
Pada Zaman Modern
Pada zaman modern atau yang disebut juga zaman rasionalisme, rasionalisme adalah paham filsafat yang mengatakan bahwa akal adalah alat penting dalam memperoleh pengetahuan salah satu tokoh dari paham ini adalah, Descrates yang menyusun argumen sangat kuat yaitu aku berfikir maka aku ada atau yang kita kenal dengan metode cegito, menurutnya segala sesuatu itu patut diragukan. Pada jaman ini juga terjadi pengembagan-pengembangan ilmu pengetahuan yang tentunya berdasarkan rasio seperti metodenya bacon yang dikembangkan oleh Thomas hobbes, John Lock, dan David Hume yang pada akhirnya akan mempermudah dalam mempelajari ilmu pengetahun seperti sekarang ini.
PENGETAHUAN DAN KRITERIA KEBENARAN
Pengertian pengetahuan berasal dari bahasa inggris yaitu knowledge kepercayaan yang benar secara terminology pengetahuan adalah apa yang diketahui atau hasil pekerjaan tahu, pekerjaan tahu itu hasil dari kenal, sadar, insaf, mengerti dan pandai (saidi gazelba), sedangkan dalam kamus filsafat pengetahuan adalah proses kehidupan yang diketahui manusia secara langsung oleh kesadarannya sendiri
Kerittria pengetahuan
· Pengetahuan biasa yaitu pengetahuan yang dalam filsafat dinamakan common sense atau good sanse
· Pengetahuan ilmu merupakan usaha untuk mengorganisasikan dan mensistematiskan commen sanse suatu pengetahuan yang berasal dari pengalaman dan pengamatan dalam kehidupan sehari-hari dan dilanjutkan dengan suatu pemikiran secara cermat dan teliti dengan menggunakan berbagai metode.
· Pengetahuan filsafat adalah pengetahuan yang diperoleh dari pemikiran yang bersifat komulatif dan spekulatif
· Pengetahuan agama, adalah pengetahuan yang diperoleh dari tuhan lewat para utusannya.
Sumber pengetahuam
· Empirisme pahami ini mengangap bahwa pengetahuan itu didapat melalui pengenalan indrawi sedangkan akal mempunyai berperan pasif sebagai penerima informasi diri indrawi (John Lock, David Hume)
· Rasionalisme merupakan anti tesis dari empirisme yang mengatakan bahwa akal adalah dasar kepastian pengetahuan
· Intuisi pengetahuan yang berasal dari tuhan melalui pencerahan dan penilaian, dalam filsafat intuisi biasanya diperoleh melalui usaha perenungan dan pemikiran yang konsisten
· Wahyu adalah pengetahuan yang disampaikan oleh Allah kepada manusia melalui perantara para nabi.
Ilmu pengetahuan
Menurut The Liang Gie pengetahuan ilmu adalah rangkaian aktifitas penelaahan yang mencari penjelasan suatu metode yang memperoleh pemahaman secara rasional empiris mengenai dunia ini dalam berbagai seginya, dan keseluruhan pengetahuan sistematis yang menjelaskan berbagai gejala yang ingin dimengerti. Adapun menurutnya yang menjadi ciri-ciri ilmu pengetahuan ialah empiris, sistematis, objektif, analitis dan verifikatif
Kriteria kebenaran
Ada tiga jenis kebenaran yaitu pertama, kebenaran epistimologis adalah kebenaran yang berhubungan dengan pengetahuan manusia, kedua,kebenaran ontologis adalah kebenaran sebagai sifat dasar yang melekat pada hakikat segala sesuatu yang ada atau diadakan. Ketiga, kebenaran sistematik adalah kebenaran yang terdapat serta melekat dalam tutur kata dan bahasa. adapun yang menjadi kriteria untuk menelaah kebenaran ialah inherensi (kebenaran itu ada dalam dirinya bukan diperoleh dari yang lainnya), koherensi (kebenaran yang saling berhubungan), korespondensi (kebenaran saling berkesesuaian)dan pragmatis (kebenaran sebagai konsekuensi kegunaan), selain keempat keriteria itu ada satu kriteria tersendri yang bisa menilai kebenaran yaitu agama. Agama dengan kriterianya sendiri memberikan jawaban atas segala persoalan asasi yang dipertanyakan manusia, baik tentang alam maupun tentang tuhan
DASAR ONTOLOGI ILMU PENGETAHUAN
Kata ontology berasal dari kata ontos yang berarti sesuatu yang berwujud, sedangkan menurut istilah ontology adalah teori tentang wujud, tentang hakikat yang ada, yang berusaha memahami keseluruhan kenyataan , sedangkan ontology jika dikaitkan dengan ilmu adalah mempertanyakan tentang objek apa yang ditelaah ilmu? Bagaimana wujud hakiki dari wujud itu dan seterunya
Sumber ilmu pengetahuan
Ada beberapa sumber ilmu pengetahuan diantaranya yaitu: Pengenalan indra (empiris), Akal (rasionalisme), Intuisi (pengetahuan diperoleh melalui proses evolusi pemahaman yang tinggi ) dan wahyu (pengetahuan yang diperoleh dari Allah yang diberikan kepada manusia melalui nabi-nabinya.)
Ruang lingkup ilmu pengetahuan
Ada beberapa ruang lingkup ilmu pengetahuan diantaranya yaitu: Rasional, Empiris, Tekstual dan Konstekstual
Kriteria ilmu pengetahuan
· Sistematis
· empiris
· Objektif
· Analitis
· uiversal
· verifikatif
EPISTEMOLOGI ILMU PENGETAHUAN
Epistemologi adalah cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan, pengandai-andaian dan dasar-dasarmya serta pertanggungjawaban atas pertanyaan mengenai pengetahuan yang dimiliki. Misalnya heraklitos yang menekankan pengetahuan itu pada indra sementara. Paramindes menekankan pengetahuan itu pada penggunaan akal dan banyak lagi filusuf-filusuf yang berbicara mengenai hakikat pengetahuan.
Macam-macam ilmu
Secara garis beras ada tiga macam pengetahuan yaitu pengetahuan sains, pengetahuan filsafat dan pengetahuan agama. Selain itu terdapat macam-macam pengetahuan menurut Imanuel Kant:
· Pengetahuan analitis predikat sudah termuat dalam subyek, predikat diketahui melalui suatu analisis obyek. Misalnya lingkaran itu bulat
· Sintesis aposterioridikat dihungkan denga n subyek berdasrkan pengalaman indrawi
· Sintesis apriori kal budi dan penglaman indrawi dibutuhkan serentak.
Pembahasan yang berhubungan dengan pembagian ilmu ialah konsepsi atau penggambaran ( suatu gambaran pikiran dimana bukan penyandraan sesuatu terhadap sesuatu yang lain seperti gambaran tentang bulan, matahari, langit dan sebagainya), pembenaran (penyandraan sesuatu terhadap seseuatu yang lain dalam bentuk positif atau negative )
Aliran-aliran yang menekan tentang epistemology yaitu aliran empirisme(menurut aliran ini manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalaman , jadi melalui indralah pengetahuan itu didapat, tokohnya yaitu John Lock, dengan teorinya tabula rasa). Kedua, aliran rasionalisme (akal adalah dasar kepastian pengetahuan. Tokohnya Rene Descrates ). Ketiga, aliran positivisme (penggabungan antara kedua aliran rasional dan empirisme. Tokohnya , Aguste Comte,), keempat aliran intuisinisme (hasil evolusi pemahaman yang tinggi karena aliran ini menganggap bahwa akal dan indra juga mempunyai kelemahan sehingga aliran ini mnggunakan intuisinya untuk memperoleh pengetahuan. Tokoh Henry Brogston)
Metode memperoleh ilmu
· Metode ilmiah adalah suatu prosedur ilmiah untuk mengetahui sesuatu yang mempunyai langkah-langkah yang sistematis,rasional, teruji dan harus memenuhi syarat-syarat yang berlaku agar pengetahuan dapat disebut ilmu’, dalam hal ini biasanya metode ilmiah menggabungkan antara metode deduktif dan metode induktif dalam membangun suatu pengetahuan
· Metode induktif adalah suatu metode yang menyimpulkan suatu pernyataan-pernyataan hasil observasi disimpulkan ke dalam suatu pernyataan yang umum
· Deduktif adalah suatu metode yang menyimpulkan bahwa data-data empiric diolah lebih lanjut dalam suatu pernyataan yang runtut
· Positivisme adalah metode yang berpangkal apa- apa yang telah diketahui, yang factual dan yang positif, metode ini menyimpulkan segala uraian atau persoalan di luar yang ada adalah fakta
· Kontemplasi metode ini mengatakan adanya keterbatasan indra dan akal manusia untuk memperoleh pengetahuan sehingga objek yang akan dihasilkan pun akan berbeda-beda sehingga membutuhkan proses evolusi pemahaman yang tinggi terhadap apa yang dihasilkan akal
· Dealektis adalah metode tanya jawab atau penuturan-penuturan yang akan menghasilkan generalisasi pengetahuan
Model pengklasifikasian ilmu
Secara umum ada tiga jenis yang sangat mendasar dalam penyusunan hirakis ilmu- ilmu metodelogis, ontologism, dan etis, ketiga keriteria ini hampir semua ilmuan menerimanya. Sedangkan menurut para filusuf muslim ilmu itu diklasifikasikan menjadi dua yaitu ilmu yang berguna dan imu yang tidak berguna. Al-farabi membuat kalsifikasi ilmu secara filosofis ke dalam beberapa wilayah seperti ilmu matematis, ilmu alam, metafisik, ilmu politik, dan ilmu teologi, sedangkan al-Ghazali mengklasifikasikan ilmu menjadi dua yaitu ilmu syari’ah dan Ilmu aqliyah, sedangkan menurut filusuf sekaligus bapak sociology Aguste Comte mengklasifikasikan ilmu menjadi (ilmu pasti, ilmu perbintangan, ilmu alam, ilmu kimia, ilmu hayat, ilmu fisika sosial)
DASAR AKSIOLOGI ILMU PENGETAHUAN
Kata aksiologi berasal dari bahasa yunani yaitu axsios, yang artinya sesuai atau wajar dan logos, yang artinya ilmu. Aksiology juga sering dipahami sebagai teori nilai. Ada beberapa definisi aksiologi menurut beberapa tokoh.
1. Amstal Bahtiar mendifinisikan akseologi sebagai teori nilai
2. Jujun S.Suri Sumantri aksiologi diartikan sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh
3. Bramel aksiologi dibedakan menjadi dua yaitu
· moral conduct ( tindakan moral atau etika)
· estetik expression (ekspresi keindahan)
· sosio political life ( kehidupn social politik atau filsafat social)
Semua definisi di atas menyangkut nilai, nilai yang dimaksud disini adalah sesuatu yang dimiliki manusia utuk melakukan berbagai tentang apa yang dinilai-nilai guna ilmu. Menurut Bacon pengetahuan adalah kekuasaan, karena dengan ilmu manusia bisa merubah wajah dunia, namun dibalik semua itu ada pertnyaan ilmu itu berkah atau mala petaka bagi umat manusia. Apapun itu ilmu adalah alat bagi manusia untuk mencapai kebahagiaan hidupnya jadi dapat dikatakan bahwa nilai guna ilmu adalah membuat kebahgiaan manusia dan dengan ilmu manusia bisa merubah dunia. Ada tiga hal yang berkaitan dengan nilai guna ilmu, yaitu: Filsafat sebagai kumpulan teori yang digunakan untuk memahami dan mereaksi dunia pemikiran, Filsafat sebagai pandangan hidup (sebagai petunjuk menjalani kehidupan), dan Filsafat sebagai metode dalam memecahkan masalah.
Penerapan ilmu pengetahuan yang telah dihasilkan harus memperhatikan nilai-nilai agama, adat, kemanusiaan dan sebagainya. Ini berarti ilmu itu tidak bebas nilai, karena ilmu sudah berada di tengah tengah masyarakat luas dan masyrakat yang mengujinya.
KERANGKA BERFIKIR ILMU-ILMU SOSIAL
Ilmu sosial adalah ilmu yang menelaah masalah-masalah social khususnya masalah-masalah yang ada atau timbul di dalam masyarakat dan didasarkan pada fakta, konsep dan teori. Ada juga yang mengartikan ilmu social adalah bidang ilmu pengetahuan mengenai manusia dalam kontek sosialnya (masyarakat).
Ruang lingkup ilmu social
Yang menjadi inti dalam ilmu-ilmu social adalah mengenai manusia atau masyarakat, jadi yang menjadi ruang lingkup dalam pembahasan ilmu-ilmu masyarakat ialah masalah-masalh atau fenomena-fenomena social yang ada di dalam masyarakat. Dengan demikian kita dapat yang dipelajari dalam ilmu social itu berupa kenyataan-kenyataan social, konsep-konsep social, dan masalah-masalah social yang timbul dalam masyarakat, jadi yang menjadi dalam pembahasan ilmu social adalah kehidupan manusia baik sebagai mahluk individu, maupun mahluk yang bermasyarakat
Sumber ilmu social
Ada beberapa sumber dalam ilmu-ilmu social yang paling utama adalah sumber sejarah, perubahan kehidupan, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dan semua yang berkaitan dengan kehidupan manusia sebagai individu maupun sebagai masyarakat. Slain itu terdapat kerangka berfikir diantaranya yaitu: Pertama-tama merinci ilmu social itu secara konkrit, Merinci sebab-sebab yang menjadi permasalahan dalam masyarakat, Memperinci variable bebas dan variable tergantung, dan pengetahuan mengenai tehnik penelitian
Metode penelitian
Metode yang digunakan oleh ilmu-ilmu social biasanya dengan menggunakan menggunakn metode kualitatif dengan cara: Metode angket, Metode wawancara, Observasi, Documenter, dan Metode tes.
SEKULARISASI ILMU PENGETAHUAN
Istilah Sekularisasi berakar dari kata Sekuler yang berasal dari bahasa latin Seaculum artinya abad ( age, century ), yang mengandung arti bersifat dunia, atau berkenaan dengan kehidupan dunia sekarang. Dalam bahasa Inggris kata secular berarti hal yang bersifat duniawi, fana, temporal, tidak bersifat spritual, abadi dan sakral serta kehidupan di luar biara.
Sekularisasi berasal dari dunia barat kristiani, yang muncul dengan diserukan oleh para pemikir bebas agar mereka terlepas dari ikatan gereja, para pemuka agama dan pendetanya. Pada awalnya agama Kristiani lahir di dunia Timur, namun warna Kristiani amat tebal menyelimuti kehidupan dunia Barat. Pada saat ia datang dengan membawa pemikiran menentang akal dan rasio dengan mempertahankan kebekuannya melawan ilmu dan kebebasan, tampil dengan menghadapi kemajuan. Sikap keras para aktifis gereja dalam menentang para ahli pikir (ilmuan) yang menorehkan hasil penelitian ilmiyah dan nalarnya karena dinilai bertentangan dengan ajaran-ajaran agama. Hingga gereja memusuhi orang-orang yang menyampaikan teori ilmu pengetahuan yang bertentangan dengan ajarannya, seperti berpendapat bahwa bumi ini bulat dianggap sebuah kekafiran atau keluar dari agama. Kepicikan berpikir gereja terhadap orang-orang yang mengemukakan teori atau pandangan keilmuan yang bertentangan dengan ajarannya ternyata melahirkan bentuk kekejaman dengan menyiksa jenazah ilmuan dan membakarnya, yang hidup pun tidak kalah penyiksaan yang diterimanya. Sehingga para ahli pikir menuntut dipisahkannya urusan agama dari kehidupan sosial dan pemerintahan agar terindar dari beragamnya penyiksaan tersebut. Dengan terlepasnya dari para ahli pikir dari tirani gereja, melahirkan sekularisasi di Barat. Pertentangan ini pun berakhir dengan membagi ”hidup” menjadi dua bagian, sebagian diserahkan kepada agama sebagian lagi diserahkan ke pemerintah (penguasa). Sebagaimana ungkapan Isa al Masih dalam Injil : sebagian untuk Allah dan sebagian untuk kaisar. Artinya masing-masing memiliki tugas sendiri-sendiri. Bahwa Kaisar mengatur kehidupan dunia, masyarakat, pemerintahan. Sedangkan tugas Allah yang diwakili gereja berada pada bagian agama atau rohani, sehingga tidak ada intervensi antar keduanya. Meskipun demikian, ilmu pengetahuan dalam kitab tetap ditempatkan sebagai kebutuhan dalam kehidupan manusia. Sesuai dengan ajaran Kristiani yang mengatakan manusia itu sebagai gambaran dan rupa Tuhan sedangkan Tuhan sendiri merupakan sumber terang dan pengetahuan. Oleh karena itu Tuhan menghendaki supaya kenal padanya dan meyelidiki segala yang diciptaka-Nya, sehingga dapat memperoleh pengetahuan.
Ilmu Itu Obyektif atau Tidak
Ilmu itu oyektif atu subyektif tergantung dri segi mana kita memandanganya, satu ilmu dipandang subyektif apabila subyek lebih aktif berperan dalam segala hal dan kesadaran manusia menjadi tolak ukur segalanya, sehingga maknanya tergantung pada reaksi subyek yang melakukan penelitian, tanpa mempertimbangkan apakah ini bersifat piskis atu fisis, atau dengan kata lain ilmu dianggap subyektif apabila hanya memperhatikan berbagai pandangan yang dimiliki akal budi manusia, seperti perasaan , intelektualitas, dan hasilnya akan mengarah pada suka tau tidak suka dari seorang manusia. Ilmu dianggap objektif jika ia tidak tergantung pada subyek aatu kesdaran yang menilai,adapun yang menjadi tolak ukurnya ialah sutu gagasan berada pada objeknya atau Sesuatu secara riil benar-benar ada dan tidak tergantung pada individu melainkan pada fakta-fakta yang ada.
Ilmu itu bebas nilai atau tidak
Ilmu itu bebas nilai karena dilihat dari dua aspek yaitu Etika teologis dan Ontologis berdasarkan dua aspek ini ilmu dapat dikatakan bebas nilai kerena kegiatan ilmiah dapat dilakukan oleh siapa saja tanpa memandang agama etnis ideology dan bahasa, namun ada juga yang mengatakan ilmu itu tidak bebas nilai dengan anggapan bahwa ilmu terikat oleh nilai-nilai seperti agama misalnya sehingga membuat ilmu itu berada dalam lingkup baik buruk dari satu agama itu
Ilmu juga dalam menetapkan menetapkan yang praktis harus tunduk pada nilai-nilai yang bersifat universal yang sudah menjdi kebenaran jadi tak mungkin ilmu itu tidak bebas nilai. Dalam hal ini ilmu harus menjdi nilai yang relevan dan nilai-nilai hidup harus diaplikasikan oleh bagian-bagian praktis jika peraktiknya mengandung tujuan yg rasional
Ilmu dalam kehidupan modern
Ilmu pengetahuan dan teknologi telah mendorong semakin cepatnya arus modernisasi di segala bidang sekarang ini yang membuat manusia mulai berhitung dan berusaha membagi waktu secara akurat, efisien, cepat, tepat apa yang harus dilkukan. Dalam kehidupan modern juga ilmu pengetahun mudah untuk diakses dan kita bebas mengeksplor apa yang ada pada diri kita namun. Situasi dan kondisi yang serba instan ini membuat manusia berada dalam kesadaran palsu karena satu sisi manusia menikmati kemajuan pengetahuan yang berupa semkin majunya teknologi sehingga manusia memperoleh kemudahan dalam berbagi hal namun di sisi lain manusia secara tidak langsung telah dibodohi dan membuat manusia malas dalam berfikir
KERANGKA BERFIKIR ILMU-ILMU ALAM
Ilmu alam atau ilmu pengetahuan alam adalah istilah yang digunakan yang merujuk pada rumpun ilmu dimana obyeknya adalah benda-benda alam dengan hukum-hukum yang pasti dan umum, berlaku kapan pun dan dimana pun. Istilah ilmu alam juga digunakan sebagai disiplin yang mengikuti metode ilmiah dan juga dsebut sebagi ilmu pasti
Yang menjadi ruang lingkup pembahasan ilmu alam adalah segala aspek-aspek fisik dan non manusia tentang bumi dan alam sekitarnya. Ilmu alam juga merupakan landasan bagi terciptanya ilmu-ilmu seperti ilmu social, humaniora, teologi, seni dan sebagainya. Dan yang menjadi sumber ilmu alam ialah: Alam semesta, Tata surya, Benda-benda langit, Benda-benda bumi, Mahluk hidup, dan Mahluk mati. Selain itu, ada beberapa kerangka berfikir ilmu-ilmu alam, diantaranya yaitu: Pengamatan berulang, Menggunakan metode deduktif, Alam dan hukum-hukumya berlaku secara umum tidak berubah meskipun untuk yang kecil-kecil (ilmu pasti), Sebagian merupakan bagian dari keseluruhan hukum untuk tetap berlaku, dan Perkembagan intelektual menjadi sebab perubahan social
Dalam penelitian ilmu alam, metode yang dipakai dalam penelitian ini biasanya menggunakan metode deduktif yaitu dengan cara observasi, eksprimen, laboratorium, explorasi dan yang tak kalah penting adalah penafsiran terhadap terhadap alam dan juga biasanya menggunakan data kuantitaif.
Selanjutnya yang menjadi karakteristik ilmu alam yaitu: Sistematis, Logis, Empiris, Reduktif (memilih satu permasalahan ), Replicable (dapat diulangi oleh orang lain utuk mengecek kebenaran), dan Trausitable (mampu memecahkan berbagai permaslahan).
KLASIFIKASI ILMU PENGETAHUAN SEKULER
Sejarah munculnya sekularisme sebenarnya merupakan bentuk kekecewaan (mosi tidak percaya) masyarakat Eropa kepada agama kristen saat itu (abad 15 an). Di mana kristen beberapa abad lamanya menenggelamkan dunia barat ke dalam periode yang kita kenal sebagai the dark age. Padahal pada saat yang sama peradaban Islam saat itu sedang berada di puncak kejayaannya. Sehingga ketika perang salib berakhir dengan kekalahan di pihak Eropa, walau mereka mengalami kerugian di satu sisi, tetapi, sebenarnya mereka mendapatkan sesuatu yang berharga, yaitu inspirasi pengetahuan. Karena justru setelah mereka “bergesekan” dengan umat Islam di perang salib hal tersebut ternyata menjadi kawah candradimuka lahirnya renaissance beberapa abad setelahnya di Eropa. Setelah mereka menerjemahkan buku-buku filsafat yunani berbahasa arab dan karya-karya filosof Islam lainnya ke dalam bahasa latin. Secara khususnya ang menjadi penyebab lahirnya sekularisme dari rahim kristen barat. Diantaranya ialah:
Pertama, kristen barat sebenarnya adalah bukan lagi murni agama samawi. Dan penamaan kristen sendiri justru bukan lahir saat agama itu diturunkan kepada Nabi Isa (Yesus). Penamaan itu lahir setelahnya. Kedua, ketika kristen bergeesekan dengan budaya Romawi dan filsafatnya yang notabene berbaukan ajaran paganisme, secara lambat laun namun pasti kristen terpengaruh oleh ajaran paganisme tersebut. Ketiga, karena dalam kristen ada teori two swords yang menyatakan bahwa adanya dua kekuasaan yaitu kekuasaan Tuhan yang diwakili oleh Gereja dan kekuasaan dunia yang diwakili oleh raja atau penguasa. Dari empat sebab itulah (diantaranya) kristen mempunyai potensi besar untuk melahirkan sekularisme.
Menurut Al-Attas, sekularisme totalistik memiliki tiga komponen integral, diantaranya: Penidak-keramatan alam (pembebasan alam dari nada-nada keagamaan, memisahkannya dari Tuhan dan membedakan manusia dari alam itu). Desakralisasi Politik (nghapusan legitimasi sakral kekuasaan politik, sebagaimana yang dipraktekan oleh kristen barat di masa lalu yang menganggap kekuasaan politik sebagai warisan Tuhan sehingga ada dogma yang menyatakan bahwa menghianati penguasa berarti menghianati Tuhan), desakralisasi politik dan dekonsekrasi nilai-nilai.
ISLAMISASI ILMU PENGETAHUAN
Kata “islamisasi” dinisbatkan kepada agama Islam yaitu agama yang telah diletakkan manhajnya oleh Allah melalui wahyu. Islamisasi ilmu berarti hubungan antara Islam dengan ilmu pengetahuan yaitu hubungan antara “Kitab Wahyu” al-Quran dan al-Sunnah dengan “kitab Wujud” dan ilmu kemanusiaan. Oleh karena itu, islamisasi ilmu ialah aliran yang mengatakan adanya hubungan antara Islam dengan ilmu kemanusiaan dan menolak golongan yang menjadikan realitas dan alam semesta sebagai satu-satunya sumber bagi ilmu pengetahuan manusia.
Islam harus menjadi acuan yang menentukan dalam prinsip utama setiap displin ilmu untuk setiap usaha dan perbuatan manusia. Ada empat poin yang harus diperhatikan, seperti:
a. Prinsip-prinsip utama Islam sebagai intisari peradaban Islam
b. Pencapaian sejarah kebudayaan Islam sebagai manifestasi ruang dan waktu dari prinsip-prinsip utama Islam
c. Bagaimana kebudayaan Islam dibandingkan dan dibedakan dengan kebudayaan lain dari sudut manifestasi dan intisari.
d. Bagaimaan kebudayaan Islam menjadi pilihan yang paling bermamfaat berkaitan dengan masalah-masalah pokok Islam dan non Islam di dunia saat ini.
Konsep Ilmu Pengetahuan Dalam Islam
Prinsip tauhid di dalam Islam, menegaskan bahwa semua yang ada berasal dan atas izin Allah SWT. Dia-lah Allah SWT yang maha mengetahui segala sesuatu. Konsep kekuasaan-Nya juga meliputi pemeliharaan terhadap alam yang Dia ciptakan. Konsep yang mengatakan bahwa Allah SWT lah yang mengajarkan manusia disebutkan dalam Al-Quran.
Wahyu, yang diterima oleh semua Nabi berasal dari Allah SWT, merupakan sumber pengetahuan yang paling pasti. Namun, Al-Quran juga menunjukkan sumber-sumber pengetahuan lain disamping apa yang tertulis di dalamnya, yang dapat melengkapi kebenaran wahyu. Pada dasarnya sumber-sumber itu diambil dari sumber yang sama, yaitu Allah SWT, asal segala sesuatu. Namun, karena pengetahuan yang tidak diwahyukan tidak diberikan langsung oleh Allah SWT kepada manusia, dan karena keterbatasan metodologis dan aksiologis dari ilmu non-wahyu tersebut, maka ilmu-ilmu tersebut di dalam Islam memiliki kedudukan yang tidak sama dengan ilmu pengetahuan yang langsung diperoleh dari wahyu. Sehingga, di dalam Islam tidak ada satupun ilmu yang berdiri sendiri dan terpisah dari bangunan epitemologis Islam, ilmu-ilmu tersebut tidak lain merupakan bayan atau penjelasan yang mengafirmasi wahyu, yang kebenarannya pasti. Di sinilah letak perbedaan epistemologi sekuler dengan epistemologi Islam.
Ilmu dan Agama dalam Islam
Antara ilmu-ilmu agama dan sekuler, telah mengarah pada pemisahan yang tidak bisa dipertemukan lagi antara keduanya bahkan cenderung pada penolakan keabsahan masing-masing dengan menggunakan metode yang juga sangat berbeda dari sudut jenis dan prosedurnya. Demikian tegas pemisahan diantara mereka, sehingga kedua kelompok ilmu tersebut sekakan tak pernah dipersatukan, dan harus dikaji secara terpisah dengan cara dan prosedur yang berlainan. Meskipun begitu penulis buku melihat bahwa dalam sistem ilmu yang integral-holistik pemishaan tersebut masih bisa diatasi dengan cara menemukan basis yang sama bagi keduanya.
KLASIFIKASI ILMU PENGETAHUAN ISLAM
Klasifikasi Ilmu Menurut al-Ghazali
Berdasarkan sumber atau cara mendapatkannya, maka ilmu dalam kitab Ar-Risalatul Laduniyyah karya Imam Al-Ghazali, terbagi dalam dua pengertian, yaitu : Al-Ulum Al Maktasabah dan Al-Ulum Al Ghaibi Laduni. Pada pengertian pertama, ilmu diperoleh dengan cara membaca, menulis, serta melakukan pengkajian terhadap suatu hal. Pada pengertian kedua, ilmu diperoleh atas kehendak Allah Azza Wa Jalla, yang berkenan menyimpan suatu ilmu atau pengetahuan dalam hati setiap manusia yang dikehendaki-Nya.
Derajat ketinggian ilmu dalam pengertian Al-Ulum Al Maktasabah tergantung pada sekuat apa usaha lahiriah seorang pencari ilmu dalam membaca, menulis dan mengkaji berbagai fenomena dalam kehidupan. Mengenai perkara ikhtiar mencari ilmu. Parameter ketinggian ilmu dari konsep Al-Ulum Al Ghaibi Laduni, ditentukan oleh optimalitas usaha lahiriah dalam pengertian sebelumnya, serta seberapa kuat seseorang mengamalkan ilmu dan pengetahuan yang ia miliki. Dengan pengamalan ilmu, maka seorang manusia tidak akan mengalami kesenjangan antara apa yang diketahuinya dengan apa yang telah dilakukannya. Diharapkan, melalui proses tersebut seorang manusia mendapatkan hakikat dan hikmah yang insya Allah tak ternilai harganya. Buah dari Al-Ulum Al Maktasabah adalah pengetahuan mengenai kebenaran dan kebathilan, sehingga seorang alim dapat membedakan mana sesuatu yang haq dan mana sesuatu yang bathil. Kebiasaan seorang alim mengamalkan pengetahuannya yang haq, akan membawa dirinya ke arah pencerahan dan pembebasan dari segala hal yang bersifat mudarat dan mengandung kemaksiatan. Semakin sering seorang alim mengamalkan pengetahuannya yang haq, semakin banyak ia memperoleh hikmah dari pengetahuannya. Melalui mutiara-mutiara hikmah itulah, Allah Azza Wa Jalla mengaruniakan ilmu laduniyyah, sehingga seorang alim mampu menyingkapkan rahasia keutamaan yang terkandung dalam pengamalan ibadah-ibadah syariat
Klasifikasi Ilmu Menurut al-Farabi
Dalam hal ilmu, Al- Farabi telah memberikan klasifikasi tentang ilmu dalam tujuh bagian, yaitu: logika, percakapan, matematika, fisika, metafisika, politik dan ilmu fiqh. Ketujuh ilmu itu telah melingkupi seluruh kebudayaan Islam pada masa itu. Menurut Al-Farabi, dia telah menyusun klasifikasi di bawah dengan sub-subdivisi (sub-sub bagian). Pertama, klasifikasi itu dimaksudkan sebagai petunjuk umum ke arah berbagai ilmu. Kedua, klasifikasi tersebut memungkinkan seseorang belajar tentang hierarki ilmu. Ketiga, berbagai bagian dan sub bagiannya memberikan sarana yang bermanfaat dalam menentukan sejauh mana spesialisasi dapat ditentukan secara sah. Dan Keempat, klasifikasi itu menginformasikan kepada para pengkaji tentang apa yang seharusnya dipelajari sebelum seseorang dapat mengklaim diri ahli dalam suatu ilmu tertentu. Dalam Ihsha’al-ulum Al-Farabi mengemukakan klasifikasi dan perincian ilmu sebagai berikut:
- Ilmu bahasa (ilmu Al-lisan), ketujuh sub bagiannya adalah ilmu-ilmu tentang:
- Lafal (ungkapan) sederhana (lafadz mufadah).
- Lafal tersusun (alfadz murakhabah).
- Kaidah-kaidah atau asas-asas (qawanin) yang mengatur lafal sederhana.
- Kaidah-kaidah yang mengatur lafal tersusun.
- Penulisan yang benar.
- Kaidah-kaidah yang mengatur pembacaan yang benar (qira’ah).
- Kaidah-kaidah puisi (sya’ir).
Klasifikasi Ilmu Menurut Ibnu Sina
Ibnu Sina menggolongkan ilmu ke dalam dua jenis, yaitu: ilmu yang tidak untuk tidak sepanjang masa tetapi hanya untuk satu periode tertentu. Kedua, ilmu yang benar-benar sepanjang masa (filosofis). Ilmu filosofis dibagi lagi menjadi ilmu umum dan ilmu khusus. Ilmu umum meliputi: eksistensi, alam semesta. Ilmu khusus meliputi: organum (logika).
No comments:
Post a Comment